Pornografi Mulai Jadi Candu Anak-Anak di Kepulauan Seribu

by pulautidung on October 29, 2016

xxxPanas menyengat ketika tim berkunjung ke Desa Maitara, Kecamatan Tidore Utara, Maluku Utara. Desa di pulau tersebut juga diketahui sebagai Pulau Seribu sebab ditampilkan di uang pecahan Rp 1.000 (versi kertas).

Pulau yang berada diantara Pulau Tidore serta Ternate dikenal juga sebagai lokasi nelayan sukses. Tiap kepala keluarga mempunyai satu sampai dua perahu dan speedboat.

“Pulau Maitara ini tak terlalu ramai pas musim ikan. Kalau pria melaut cari ikan dan perempuan berdagang ikan dari hasil tangkapan,” ujar Safril (31), orang Desa Maitara, awal Oktober 2016.

Dengan prestasi yang mereka miliki, mempunyai gawai tidaklah hal aneh untuk nelayan setempat. Justru, anaknya yang tengah duduk di kursi kelas 6 SD sehari-hari main game dari di ponsel sehabis pulang sekolah.

Safril menyebutkan, fenomena itu tidak hanya terjadi kepada anaknya. Beberapa siswa atau pelajar di Pulau Maitara telah kenal internet.

“Melalui HP, mereka bisa mengakses internet. Kadang, anak-anak disini lebih paham dibanding orangtua mereka,” kata dia.

Safril memberi kebebasan untuk anaknya yang bakal beranjak kelas 1 SMP. Soal gimana dampak negatifnya, Safril tidak mengetahui.

Hal serupa disebutkan Santi, masyarakat Desa Maitara Selatan yang setiap hari berjualan ikan di pasar ikan nasional, Kelurahan Bastiong, Kota Ternate.

Ibu satu anak tersebut mengatakan, putranya yang kursi kelas 6 SD dihadiahkan smartphone dengan tujuan menjadi hiburan anaknya. “Saya sendiri jarang di rumah. Setiap hari ada di pasar,” kata dia.

Salah satu siswa SMP Ni 17 Kota Tidore Kepulauan mengatakan smartphone yang digunakan semua pelajar tidak terlepas dari arahan pihak sekolah. Semua guru menganjurkan siswa mencari jawaban dari pekerjaan rumah di internet.

“Sebab tugas sekolah (mengharuskan) kami menemukan bahan-bahan pelajaran lewat internet. Informasi yang diperoleh, banyak,” kata Masri.

Akhir-akhir, niat sekedar mencari bahan pelajaran dari internet berevolusi jadi asyik main media sosial. Ia pribadi memiliki 2 akun media sosial yang dipakai tuk berteman di dunia maya.

Ketika itulah, sejumlah konten iklan dewasa yang mengarah ke konten pornografi sudah muncul di layar smartphone miliknya. “Banyak gambar-gambar (iklan dewasa). Hal tersebut gambarnya pakai baju separuh,” kata dia.

“Karena ingin tahu saya buka. Saya lihat, gambar sampai video seks,” sambung dia.

Masri mengungkapkan rasa penasarannya makin membuatnya kecanduan terhadap konten pornografi. Ketika mengakses internet, yang pertama dilihat iklan dewasa separuh bugil.

Ia menerangkan didalam sebulan, ia buang uang Rp 150.000 tuk membeli paket data. Ia leluasa mengakses apa saja lewat internet sebab kedua orangtuanya sibuk berprofesi sebagai nelayan juga pedagang.

Padahal, Masri terbilang siswa berprestasi di sekolah. Dia pun aktif jadi pengurus OSIS di sekolahnya.

Comments on this entry are closed.

Previous post:

Next post: